"Berada di dalam kesendirian, hampa dan kosong.
Hatiku telah tertutup dalam waktu lama. Rasa akan kehidupan ini telah
lama sirna dan menunggumu untuk membukanya..."
Dinding triplek, meja usang dan kursi tua itulah duniaku setiap
harinya. Diseberangnya, berdiri sebuah kulkas yang tidak terhubung ke
listrik namun seakan kulkas itu kekenyangan memakan semua isi2nya.
Aku mulai memutar penaku menuliskan berbagai jurnalku. Seperti biasanya,
sore itu aku segera mengirimkan berkas editanku ke bos-ku.
Kukenakan sebuah celana training dengan kaos oblong sesuai kebiasaanku
biasanya. Kali ini, kaos Hitam bercorak rumah menjadi pilihanku.
Kulangkahkan kaki menuju ke pintu apartemen tuaku dan menuju ke jalan
raya.
Bruk!!
Tumpukan kirimanku terjatuh, namun setelah mataku meneliti lebih jauh
tampak sepasang kaki beralaskan sepatu sporty berwarna merah.
Tak berani aku memandang, selama ini aku jarang berjumpa dengan dunia
selain dalam apartemen miniku.
Pemilik sepatu itu menjulurkan tangan untuk membantuku sembari memberi
semyumnya.
Aku merasa seperti berada di kutub utara tak mampu bergerak dan
gemetaran.
kemudian segera aku bergegas pergi.
Yang tak dapat kupungkiri, senyumnya terus terlukis indah dalam benak
kecilku.
Esoknya, ada penumpang baru disebelah tempatku. Mungkinkah ini yang
disebut jodoh, betapa aku terlonjak melihat peri tanpa sayap itu
disebelah rumahku.
oops... peri? bukankah tak selamanya peri itu wanita.
tok.. tok...
Aku tersadar dari mimpi siang bolongku... kubuka pintu usang itu dan
betapa shoknya ketika kulihat ia berdiri tepat dihadapanku.
"Salam kenal, namaku Reto, aku tinggal disebelah mulai sekarang. "
aku hanya menunduk dan menyebut lemah Do...ri.
Lalu kututup pintu.
"Aku memiliki tetangga yang aneh, ia tak pernah memandang mata lawan
bicaranya. Namun, ketika pertama aku bertemu dan menatap matanya, ada
yang salah padaku. Aku ingin membawanya keluar dari dunia gelapnya."
Aku membereskan barangku sambil terus mengingat tetanggaku. Sepintas
teringat olehku tatapan matanya yang dipenuhi ketakutan. Aku begitu
ingin menyelamatkannya. Apakah ini hanya simpati atau aku telah jatuh
hati??
Setiap hari aku terus mengunjungi Dori dan mengganggunya, namun ia masih
diam. Hingga suatu hari dia merasa tertekan "BERHENTI"
itulah yang ia ucapkan. Aku sadar ia menahan air matanya. Mungkin dia
tipe yg tak akan menangis dihadapan orang asing.
Aku mulai diam membatu. suasana menjadi setegang besi dan sekaku batu.
"Ceritalah, aku bisa menjadi temanmu Dori. mari berbagi bersama."
mungkin terharu, ia menangis dan mulai bercerita betapa kejam dunia.
setelah ia kehilangan semua yang ia sayang, ia harus di khianati dan di
bully oleh sahabatnya. ia tidak bisa percaya pada siapa pun.
kupinjamkan pundakku untukknya, dan aku semakin merasa jantungku
memberontak.
"tetangga baruku itu, bukan orang biasa. ia seperti memiliki sihir dari
senyum dan segala dalam dirinya. aku tidak tau kenapa aku bisa percaya
dan bercerita padanya. namun perlahan aku mulai menatap dunia dan aku
merasa masih ada yang peduli padaku."
hari hariku berjalan indah semenjak reto tinggal di sebelahku.
keceriaannya membangun rasa percaya diriku dan rasa bahwa aku berhak
untuk tampil. Aku mulai mencintai diriku sendiri juga reto.
ketika jam terus berdetak aku telah siap dengan dress hitam dan rambut
rapiku. jantungku terasa mau copot. padahal ini hanya janji biasa
bagiku makan bersama reto. aku mulai sadar... aku jatuh cinta padanya.
kami tiba di sebuah restoran khas jepang dengan dekorasi ala bambu.
namun, kenapa hanya ada aku dan pria berprofesi pencipta game ini disini
?? apakah makanan disini gak enak?
dan pertanyaan dalam anganku terjawab.
"Aku telah menemukan bagian diriku yang hilang sejak bertemu denganmu"
aku terharu dan menjawab hal yang serupa sambil reto memasangkan kalung
dileher kecilku.
"mencintai tidak butuh syarat. ia adalah saling melengkapi antara dunia
terang dan gelap antara kau dan aku. "
****TAMAT****