Angin berhembus dari sebuah kipas abu yang kecil menjauhkan gerah dariku. Aku terbaring dengan kedua tangan di samping tubuhku yang diam. kedua kaki panjangku lurus terpaku tak mampu bergerak. Perlahan, kugerakkan kaki kananku. "Aww...!!" Aku berteriak mewakili kakiku itu. Rasanya, sakit itu menjalar ke sekujur tubuhku. Seluruh tenagaku sepertinya di hisap bumi. Kakiku lemas layaknya baru dipatahkan oleh orang besi.
Tak lama, kulihat seorang yang sudah agak tua, namun tak terlalu tinggi dan masih berjalan baik. Ia menghampiriku. Diperiksanya kakiku. "Ronsen dulu deh, takutnya retak." katanya singkat. Menjelang mentari memancarkan semangatnya pada dunia, di depan rumahku yang berpintu biru, telah terparkir sebuah mobil. Hitam dan mengkilap, pokoknya wow banget deh. Aku sama sekali tak dapat berjalan dengan baik. Mama mencoba memopohku, tapi berhubung tubuhnya kecil dan kurus, maka ia tidak sanggup.
Tanpa kusadari, seorang pria yang tinggi, namun cukup untuk masuk kategori kurus dan sudah cukup umur menggendongku. Aku bisa membaca kekhawatiran dari raut mukanya itu. Dengan segenap tenaganya, ia mencoba menggendongku sampai ke mobil. Ya, dia adalah ayahku. Aku hanya terus mengeluarkan satu persatu keluhan dari mulut kecilku ini. Sementara, raut mukanya semakin tidak menentu.
Mobil itu kemudian melaju dengan cepat hingga tiba di suatu gedung yang sangat mewah. kubaca di salah satu sudut gedung itu "RUMAH SAKIT UMUM DAERAH". Secepatnya, aku diturunkan. Kembali ayahku menggendongku yang beratnya sekitar 60kg dengan penuh harapan.
Mama meminta kursi roda. Lalu, aku pun dengan perlahan duduk di atas kursi hitam yang beroda dua itu. di bawahnya ada penyangga kaki yang terbuat dari perban. Cukup aneh, namun lumayan nyaman. Dengan sabar mama mendorong kursi roda menuju ruangan yang bertuliskan "RADIOLOGI". Disana, sungguh menjengkelkan, kami masih harus menunggu. Padahal, aku sudah tidak tahan. Untung saja tak lama.
Aku pun masuk ke dalam ditemani ayah. Di sana, ada sebuah tempat seperti tempat tidur, tapi terbuat dari besi yang putih mengkilap. Kembali aku digendong dengan penuh kesabaran oleh ayah. di atas tempat baring itu, tubuh ini seperti tidur di atas es, rasanya dingin. Di atasnya ada sebuah alat pemancar untuk ronsen. Seiring jarum detik jam bergerak, akhirnya proses ronsen selesai.
Kami semua bergegas pulang ke rumah tercinta. Kembali ayah menggendongku. Sampai di rumah sederhana kami, mama membuka amplop putih hasil ronsen tadi. Bisa kubaca raut mukanya terlukis keraguan, dan rasa cemas. Namun, ia berhasil membukanya. Dari hasilnya, sense yang tadi memeriksa kakiku mengatakan baik-baik saja kakiku. Aku berhembus lega. Mama juga sangat lega.
Tapi, aku tetap punya firasat buruk kalau kaki ini retak. Sense yang terlihat profesional itu tak mengurutnya, ia hanya mengoleskan obat.
Usainya, rumah kini kembali seperti semula. Aku merenung dalam benak, "Untung saja ada ayah. Kalau tidak, belum tentu aku selamat hari ini.. Padahal tubuhnya sudah kurus, tapi ia tetap menggendongku. Terima kasih, yah. You're my superhero. :)"
Semangat mentari sepertinya mengalir ke tubuhku yang tertiup kipas angin. Kini, aku punya semangat untuk menghadapi semua musibah ini.