MATA
Mata merupakan organ
pengelihatan yang di miliki oleh manusia yang sangat peka terhadap rangsangan .
kita dapat melihat sekeliling menggunakan mata , tapi mata juga memiliki
keterbatasan dalam melihat benda yang sangat kecil atau benda yang sangat jauh
. mata kita termasuk ke dalam alat optic karna mata dapat melakukan pembiasan
pada cahaya yang di lakukan oleh lensa mata .
1. Bagian bagian pada
mata :
1.
Kornea , adalah bagian terluar
bola mata berupa lapisan tipis yang benis dan tembus cahaya .
2.
Aqueous humor , adalah cairan bening
yang terdapat di belakang kornea yang berfungsi untuk membiaskan cahaya.
3.
Iris , adalah bagian mata
yang berwarna terdiri dari otot diagfarma yang mengitari pupil dan mengatur
cahaya yang masuk ke mata dengan cara mengembangkan dan mengepiskan pupil. Iris
memberi warna pada mata, sehingga kita dapat melihat orang ada bermata biru ,
coklat , atau hitam .
4.
Pupil , adalah celah lingkaran
yang di bentuk oleh iris yang berfungsi untuk mengatur banyak atau sedikit nya
cahaya yang masuk . jika sedikit nya cahaya , maka pupil akan membesar ,
sebaliknya jika cahaya yang masuk semakin banyak , maka pupil akan mengecil .
apabila cahaya masuk ke mata redup maka pupil akan membesar sehingga cahaya
banyak masuk lebih banyak .
5.
Lensa mata , adalah lensa yang
terbuat dari bahan bening berserat dan elastic . lensa mata berfungsi mengatur
pembiasan yang di sebabkan oleh cairan Aqueous humor di depan lensa. Lensa mata
berfungsi seperti lensa cembung membentuk bayangan bersifat maya, terbalik dan
di perkecil.
6.
Retina (selaput jala)
, adalah lapisan di
bagian sebelah dalam mata yang banyak mengandung sel sel saraf pernerima ,
retina berfungsi sebagai layar penangkakap bayangan . pada retina terdapat
bintik kuning atau fovea yang paling peka terhadap rangsangan cahaya . pada
bintik kuning terdapat berjuta juta sel yag di sebut sel batang dan sel kerucut
. sel-sel ini yang mengirimkan sinyal-sinyal ke otak melalui saraf optic .
2. daya akomodasi mata.
Benda yang ada di
sekitar kita dapat terlihat, jika banyangan benda tersebut jatuh di retina .
baik benda yang letaknya jauh ataupun benda yang letaknya dekat , bayangan
benda harus selalu jatuh di retina agar dapat terlihat .
untuk mendapatkan
bayangan tepat di retina, maka lensa mata harus melakukan penyesuaian dengan
cara mengembangkan atau mengempiskan lensanya.kemampuan mata untuk mengubah
kecembungan lensa baik mata tebal atau menipis, supaya dapat menghasilkan
bayangan tepat pada retina di sebut daya akomodasi mata.
Daya akomodasi mata
berfungsi untuk mengubah ubah jarak focus lensa mata. Ketika mata semakin dekat
dengan mata , maka daya akomodasi mata semakin besar (mata berakomodasi
maksimum) sehingga lensa menebal (semakin cembung) akibat nya jarak focus lensa
mata semakin kecil . sebaliknya , jika benda semakin jauh terhadap mata, maka
mata berakomodasi minimum sehingga lensa mata menipis (semakin pipih) akibanya
jarak focus lensa semakin besar .
Daya akomodasi mata
kita terbatas, sehingga jangkauan pengelihatan kita juga terbatas. Kita dapat
melihat benda benda denga jelas, manakala benda tersebut di antara titik dekat
mata dan tidak jauh dari mata . titik dekat mata (punctum proximum) adalah
titik yang dapat di lihat jelas oleh mata dengan mata berakomodasi maksimum. Sedangkan
titik jauh mata (punctum rematum) adalah titik terjauh yang dapat di lihat
jelas oleh mata dengan mata tidak berakomodasi.
3 cacat mata
Mata yang normal dapat melihat benda
benda di sekeliling nya karna bayangan dari benda benda yang di lihatnya tepat
jatuh pada retina. Berarti pada mata yang normal daya akomodasi matanya dapat
berfungsi dengan baik. Namun dalam kehidupan kita, banyak orang yang mengalami gangguan karna
daya akomodasi mata nya sudah mulai berkurang, sehingga ada orang yang tidak
dapat melihat dengan jelas benda yang terlalu jauh ataupun benda yang terlalu
dekat. Ini berarti bahwa mata orang tersebut sudah terkena cacat mata (aberasi)
. orang yang mengalami cacat mata berarti sudah mengalami perubahan pada tititk
dekat dan titik jauhnya. Orang yang mata nya normal (emotropi) memiliki titik dekat pada jarak 25
cm dan titik jauh pada jarak tak terhingga .
a.
Rabun jauh (miopi) .
Orang yang mengalami
rabun jauh, tidak dapat melihat benda benda yang letak nya jauh dari mata
dengan jelas. Ini terjadi karena lensa mata tidak dapat di pipih kan
sebagaimana mestinya sehingga bayangan benda jauh di depan retina. Orang yang
mengalami ini dapat di tolong dengan kacamata berlena cekung atau negative
sehingga bayangan benda kembali jatuh ke retina.
b.
Rabun dekat (
hipermetropi)
Orang yang mengalami
rabun dekat, tidak dapat melihat dengan jelas benda benda yang letak nya dengan
jelas ini terjadi karena lensa mata tidak dapat di cembungkan sebagaimana mesti
nya, sehingga bayangan benda jatuh di belakang retina. Orang yang mengalami ini
dapat di tolong dengan kacamata berlensa cembung atau positif sehingga bayangan
benda yang asalnya jtuh di belakang retina dapat kembali jatuh tepat pada
retina.
c.
Mata tua (presbiopi)
Mata tua tidak dapat
melihat benda dengan jelas. Hal ini di sebabkan pada penderita mata tua daya
akomodasi matanya sudah melemah sebagai akibat bertambah nya usia. Biasanya
cacat mata tua di derita pada orang tua. Penyakit mata tua ini dapat di tolong
dengan kacamata berlensa rangkap yaitu lensa cekung di bagian atas dan cembung
di bagian bawah.
d.
Atigmatisma
Atigmatisma adalah
tidak dapat melihat garis garis garis vertical dan horizontal secara simultan
(bersama-sama) , ini disebabkan lengkungan kornea pada mata penderita
astigmatisma susah tidak sempurna. Penderita astigmatista dapat di tolong
dengan memakai kacamata berlensa silindris .
4. Cara kerja mata
kita
Cahaya yang dipantulkan oleh benda yang kita lihat masuk ke
mata melalui kornea dan mengalami pembiasan. . Pada mata normal, bayang-bayang
benda akan jatuh tepat pada bintik kuning, namun pada mata dengan gangguan
penglihatan berupa rabun jauh/minus, maka bayang-bayang akan jatuh sebelum
bintik kuning (atau setelah bintik kuning untuk gangguan mata rabun
dekat/plus). Dari kornea, cahaya yang dipantulkan oleh benda akan diteruskan ke
retina. Pada mata kita terdapat 2 jenis otot mata yang melingkari retina, yaitu
otot silinder dan otot radikal. Otot silinder berfungsi untuk menekan retina
dan menjadikannya lebih tebal. Otot radikal berfungsi untuk menarik retina agar
menjadi tipis.
Ketika kita melihat objek yang berdekatan, otot silinder
akan menekan dan otot radikal akan mengembang. Ini menjadikan retina lebih
tebal dan lebih dekat dengan penerima. Ketika kita melihat objek yang
berjauhan, otot radikal akan mengembang, sehingga retina lebih tipis dan
menjauhi dari penerima. Menebal dan menipisnya retina ini menjadikan objek yang
kita lihat dapat difokuskan dan jatuh tepat di pada bintik kuning.
KAMERA
Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas
fotografi.
Nama ini didapat dari camera
obscura, bahasa
Latin untuk "ruang gelap", mekanisme
awal untuk memproyeksikan tampilan di mana suatu ruangan berfungsi seperti cara
kerja kamera fotografis yang modern, kecuali tidak ada cara pada waktu itu
untuk mencatat tampilan gambarnya selain secara manual mengikuti jejaknya.
Dalam dunia fotografi, kamera
merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret pada
lembaran film. Pada kamera televisi,
sistem lensa
membentuk gambar pada sebuah lempeng yang peka cahaya.
Lempeng ini akan memancarkan elektron
ke lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu
diperlakukan secara elektronik.
Dikenal banyak jenis kamera potret.
CARA KERJA KAMERA
|
Kamera terdiri atas sebuah lensa
cembung dan film. Ketika ada cahaya datang ke kamera, lensa cembung akan
memfokuskan cahaya tersebut.Bayangan akan berupa gambar terbalik yang bisa
ditangkap layar.Untuk membuktikannya, silakan ambil sebuah lup (lensa cembung)
kemudian silakan berdiri di dekat jendela (yang terbuka). Hadapkan lup
tersebut menghadap lur jendela. Letakkan selembar kertas putih dibelakan lup
tersebut, maka akan anda lihat sebuah bayangan pemandangan luar jendela di
layar kertas putih tadi yang terbalik posisinya.
Dalam kamera, bayangan ini
terrekam dalam film yang sensitif terhadap cahaya.Sehingga kita dapatkan
klise.
LATAR BELAKANG
KAMERA
Banyak
terdapat kamera-kamera yang terpasang di sudut atas gedung-gedung bertingkat.
Kamera-kamera ini berfungsi untuk mengawasi keadaan ruangan atau lorong.
Kegiatan orang-orang atau suatu kondisi yang membahayakan dapat ditanggulangi
secara dini. Biasanya kamera-kamera tersebut terhubung ke ruang kontrol dan
diawasi oleh petugas. Penggunaan kamera-kamera tersebut tentunya membutuhkan
aplikasi yang bisa menampilkan dan mengendalikan kamera. Aplikasi tersebut
biasanya diikutsertakan dalam pembelian kamera. Kebanyakan aplikasi berfungsi
menampilkan view atau merekam berdasarkan perintah user. Hal ini
tentunya sangat bergantung pada user atau petugas yang berjaga.
Adapun
aplikasi yang bisa merekam video selama 24 jam atau selama rentang waktu yang
diinputkan oleh user. Aplikasi ini tentu membutuhkan space atau media
penyimpanan yang banyak. Padahal tidak semua bagian video kita perlukan.
Sering terdapat ruang atau lorong kosong yang ikut terekam sehingga
memboroskan space. Oleh karena itu, diperlukan penghematan space berupa
aplikasi yang bisa mendeteksi gerakan orang/objek yang masuk dalam ruangan
atau lorong dan merekamnya. Setelah orang/objek tersebut keluar ruangan atau
hilang, maka aplikasi menghentikan proses perekaman. Hal ini tentu
membutuhkan space yang lebih sedikit. Dalam tugas akhir ini, didesain dan
diimplementasikan suatu aplikasi yang bisa mendeteksi gerakan suatu objek
dengan cara membandingkan image yang ditangkap kamera. Proses ini menggunakan
metode Manhattan Distance, yaitu membandingkan nilai setiap pixel dari
kedua image. Output dari metode ini berupa nilai yang menunjukkan ada
tidaknya gerakan suatu objek, berdasarkan nilai minimum yang sudah ditetapkan
sebelumnya. Apabila melebihi nilai minimum maka kamera mulai merekam.
|
|
|
Komponen kamera
Sebuah
kamera minimal terdiri atas:
- Kotak
yang kedap cahaya (badan kamera)
- Sistem
lensa
- Pemantik
potret (shutter)
- Pemutar
film
Badan kamera
Badan kamera adalah ruangan yang
sama sekali kedap cahaya,
namun dihubungkan dengan lensa yang menjadi satu-satunya tempat cahaya masuk.
Di dalam bagian ini cahaya yang difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat
mengenai dan membakar film.
Di
dalam kamera untuk tujuan seni fotografi, biasanya ditambahkan beberapa tombol
pengatur, antara lain:
- Pengatur
ISO/ASA Film.
- Shutter
Speed.
- Aperture
(Bukaan Diafragma).
Jika
diperlukan bisa pula ditambah peralatan:
Bagian lain
Bagian
lain sebuah kamera, antara lain:
1. Mekanisme
memutar film gulungan agar bagian-bagian film itu bergantian dapat disingkapkan
pada objek
2. Mekanisme
fokus yang dapat mengubah-ubah jarak antara lensa dan film,
3. Pemindai
komposisi pemotretan (range finder) yang menunjukkan apa saja yang akan
terpotret serta apakah objek utama akan terfokuskan
4. lightmeter
untuk membantu menetapkan kecepatan pemetik potret dan atau besarnya bukaan,
agar banyaknya cahaya yang mengenai film cukup tepat sehingga diperoleh
bayangan atau gambar yang memuaskan.
Beberapa
kamera, terutama jenis kamera poket biasanya tidak memiliki salah satu dari
bagian-bagian tersebut.
Jenis kamera berdasarkan media
penangkap cahaya
Kamera film menggunakan pita
seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver
halida yang menempel pada pita ini sangat sensitif terhadap cahaya. Saat proses
cuci
film, silver halida yang telah terekspos cahaya
dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama sekali
tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).
Kamera film
Jenis kamera film yang digunakan
adalah dari jenis 35 milimeter, yang menjadi populer karena keserbagunaan dan
kecepatannya saat memotret, karena kamera ini berukuran kecil, kompak dan tidak
mencolok. Lensa kadang dapat dipertukarkan, dan kamera itu dapat memuat
gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang lebih.
Jenis film
Pembagian
film berdasarkan ukuran:
- Small
format (35mm)
- Medium
format (100-120mm)
- Large
format
Angka
di atas berarti ukuran diagonal film yang digunakan. Setiap jenis ukuran film
haru menggunakan kamera yang berbeda pula.
Pembagian
film berdasarkan jenis bahan dan kesensitifannya:
- Film
hitam putih
- Film
warna
- Film
positif
- Film
negatif
- Film
daylight
- Film
tungsten
- Film
infra merah (sensitif terhadap panas yang dipantulkan permukaan objek)
Kamera polaroid
Kamera jenis ini memakai lembaran
polaroid yang langsung memberikan gambar positif sehingga pemotret tidak perlu
melakukan proses cuci cetak film.
Kamera digital
Kamera jenis ini merupakan kamera
yang dapat bekerja tanpa menggunakan film. Si pemotret dapat dengan mudah
menangkap suatu objek tanpa harus susah-susah membidiknya melalui jendela
pandang karena kamera digital sebagian besar memang tidak memilikinya. Sebagai
gantinya, kamera digital menggunakan sebuah layar LCD
yang terpasang di belakang kamera. Lebar layar LCD pada setiap kamera digital
berbeda-beda.
Sebagai
media penyimpanan, kamera digital menggunakan internal memory ataupun external
memory yang menggunakan memory card.
Jenis kamera berdasarkan mekanisme
kerja
Kamera single lens reflect
Kamera ini memiliki cermin datar
dengan singkap 45 derajat di
belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela pandang
adalah juga apa yang akan di tangkap pada film. Umumnya kamera ini digunakan
setinggi pinggang ketika dipotretkan.
Kamera instan
Istilah instan adalah dimilikinya
mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya (lightmeter
atau fotometer), lebar diafragma dan kecepatan pemetik potret secara
otomatis telah diatur.
Pembagian kamera berdasarkan
teknologi viewfinder
Viewfinder
memainkan peranan penting dalam penyusunan komposisi fotografi. Fotografer ahli
biasanya akan lebih memilih viewfinder dengan kualitas baik dan mampu
memberikan gambaran tepat seperti apa yang akan tercetak.
Kamera saku
Jenis yang paling populer digunakan
masyarakat umum. Lensa utama tak bisa diganti,umumnya otomatis atau memerlukan
sedikit penyetelan Cahaya yang melewati lensa langsung membakar medium.
Kelemahan film ini adalah gambar yang ditangkap oleh mata akan berbeda dengan
yang akan dihasilkan film, karena ada perbedaan sudut pandang jendela pembidik
(viewfinder))
dengan lensa.
Kamera TLR
Kelemahan kamera poket diperbaiki
oleh kamera TLR. Jendela bidik diberikan lensa yang identik dengan lensa di
bawahnya. Namun tetap ada kesalahan paralaks
yang ditimbulkan sebab sudut dan posisi kedua lensa tidak sama.
Kamera SLR (Single Lens Reflect)
Pada kamera SLR, cahaya yang masuk
ke dalam kamera dibelokkan ke mata fotografer
sehingga fotografer mendapatkan bayangan yang identik dengan yang akan
terbentuk. Saat fotografer memencet tombol kecepatan rana, cahaya akan
dibelokkan kembali ke medium (atau film). lensa kamera SLR dapat diganti ganti
sesuai kehendak,sangat disukai para ahli foto, atau hobby, dudukan lensa pada
body kamera berbeda benda tergantung merek kamera,mulai dari lensa wide(sudut
lebar),tele(jarak jauh),dan lensa normal(standard 50 mm),tersedia pula lensa
zoom dengan panjang lensa bervariasi
PENEMU DAN PENCIPTA KAMERA
Kamera
merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan
dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar
mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan
kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat
Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.
Jauh
sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera
telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak
prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu
al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah
kamera obscura.
Itulah
salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat
inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi.
Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu
berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari
fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang
memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.
Kajian
ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat
ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah
diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan
lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah
mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan
kepada para penonton.
Kamera
obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham,
yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger
dalam karyanya berjudul The
eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.
Dunia
mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat
bukunya bertajuk Kitab
al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam
bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau
lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.
Bradley
Steffens dalam karyanya berjudul Ibn
al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab al-Manazir
merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan
ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke
dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.
Istilah
kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar
abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501
-1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik
lensa dengan lensa (camera).
Setelah
itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista
della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera
obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh
Joseph Kepler (1571 - 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan
menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar
proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).
Setelah
itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil,
tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900
tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara
permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto
permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.
Tahun
1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari
tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam
perjalanan kamar gelapnya - yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman
mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik
sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah
mengikuti perkembangan teknologi.
Sebuah
versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat
terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga
digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah
penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban
dunia.
Peradaban
dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di
Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200
karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.
Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga
kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan
Islam.
PROSES
PEMBENTUKAN BAYANGAN
Pada kamera terdapat sebuah lensa cembung untuk membiaskan sinar dari
benda himgga bayangan jatuh di film sebagai layer. Benda yang akan dipotret
ditempatkan pada jarak lebih besar dari 2f (2 kali jarak titik api) di depan
lensa. Ingatkah di mana bayangan benda akan didapatkan dan bagaimana sifat-sifat
bayangan itu?
Tentu saja bayangan akan jatuh antara f dan 2f yang memiliki sifat diperkecil,
nyata, dan terbalik.
Mikroskop
A.
Pengertian
Mikroskop
Mikroskop (bahasa
Yunani: micron = kecil dan scopos = tujuan) adalah sebuah
alat untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata
telanjang. Ilmu yang
mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik
berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata.
Mikroskop
juga merupakan alat yang di gunakan untuk memperbesar benda-benda berukuran
sangat kecil (renik) yang tidak dapat dilihat dengan mata secara langsung.
B.
BAGIAN-BAGIAN
MIKROSKOP
Mikroskop
terdiri atas 2 bagian, yaitu :
1.
bagian
optic mikroskop , yang terdiri dari :
a. lensa okuler , yaitu lensa yang dekat
dengan pengamat atau tempat mata melihat bayangan, yang berfungsi untuk
memperbesar bayangan dari lensa objektif, membentuk bayangan maya, tegak, dan
di perbesar. Pembesaran pada lensa okuler yaitu sebesar 5 x , 10 x , dan 15 x
,tetapi yang sering di gunakan adalah pembesaran 10 x.
b. lensa objektif , yaitu lensa yang dekat
dengan objek, berfungsi untuk memperbesar bayangan benda ( preparat ) ,
membentuk bayangan nyata, terbalik dan di perbesar. Pembesaran pada lensa
objektif beraneka ragam, contoh : 10x, 40x, dan 100x.
c. Diafragma, berfungsi untuk mengatur
banyaknya cahaya yang menuju ke kondensor.
d. Cermin, berfungsi untuk memantulkan cahaya
dari sumber cahaya ke kondensor. Terdiri atas cermin datar yang berfungsi untuk
sumber cahaya yang cukup terang dan cermin cekung yang berfungsi untuk sumber
cahaya kurang terang.
2.
BAGIAN
NON OPTIK ( MEKANIK) MIKROSKOP.
Terdiri dari :
a. badan mikroskop untuk mengatur focus yang
menghubungkan lensa okuler dan lensa objektif.
b. Makrometer (pemutar kasar) untuk menaikkan
dan menurunkan badan mikroskop secara cepat.
c. Mikrometer (pemutar halus) untuk menaikan
dan menurunkan badan mikroskop secara lambat.
d. Lengan mikroskop untuk memegang mikroskop
pada saat akan di pindahkan.
e. Meja benda sebagai tempat meletakkan objek
atau preparat yang akan di amati. Objek diletakkan di meja dan dijepit dengan
menggunakan penjepit. Pada bagian tengah meja, terdapat lubang untuk dilewati
sinar.
f. Pemutar kondensor untuk menaikkan dan menurunkan kondensor
supaya diperoleh cahaya yang optimum.
g. Kaki mikroskop untuk menopang dan
memperkokoh kedudukan mikroskop.
h. Kondensor untuk mengumpulkan cahaya dari
cermin digunakan untuk menerangi preparat.
i. Penjepit untuk menjepit kaca preparat yang
akan di amati supaya tidak bergeser.
3.
CARA
MENGGUNAKAN MIKROSKOP.
Cara
Menggunakan Mikroskop
\
Letakkan
mikroskop pada meja sedemikian rupa agar kamu lebih mudah melakukan pengamatan
melalui tabung mikroskop. Pastikan mikroskop terletak pada tempat yang aman,
atur pencahayaan dan peralatan yang telah siap dipakai, kemudian lakukan
pengaturan pencahayaan. Objek pengamatan (preparat) dapat diamati di mikroskop
dengan jelas apabila cahaya yang masuk cukup memadai. Mikroskop ada yang sudah
dilengkapi sumber cahaya berupa lampu sehingga untuk mengatur pencahayaan
tinggal menghidupkan lampunya saja. Mikroskop yang belum dilengkapi dengan
sumber cahaya dapat menggunakan cahaya lampu maupun sinar matahari. Bila
menggunakan lampu, arahkan lampu pada jarak kira-kira 20 cm dari mikroskop.
Jika sumber cahaya dari sinar matahari, bagian cermin pada mikroskop diarahkan
pada datangnya sumber cahaya matahari, misalnya dekat pintu/jendela.
\
Aturlah
diafragma dan kedudukan cermin hingga cahaya terpantul melalui lubang meja
objek. Jangan mengarahkan cermin ke arah sinar matahari secara langsung, karena
cahaya yang memantul ke mata dapat mengganggu penglihatan. Pencahayaan sudah
tepat dan memadai, bila diamati dari lensa okuler akan tampak lingkaran yang
terangnya merata. Inilah yang disebut dengan lapangan pandang. Apabila lapangan
pandang sudah tampak namun belum jelas, cobalah putar/ganti lensa objektif
dengan cara memutar revolver.
*
Setelah
pengaturan pencahayaan, maka untuk dapat melihat objek (preparat/ sediaan)
melalui mikroskop gunakan lensa objektif yang memiliki perbesaran lemah dulu,
kemudian lakukan langkah langkah berikut:
- Letakkan kaca benda (object glass)
beserta objek yang akan diamati (preparat/sediaan) pada meja objek.
Aturlah posisi kaca benda sehingga objek yang akan diamati berada pada
lapangan pandang.
- Jepitlah kaca benda dengan penjepit
yang terletak di atas meja objek.
- Sambil melihat dari samping, turunkan
lensa objektif secara perlahan dengan menggunakan pemutar kasar hingga
jarak lensa objektif dan preparat yang diamati kira-kira 5 mm. Pada
beberapa mikroskop, yang naik turun bukan lensa objektifnya tetapi meja
objek (Hati-hati! Jangan sampai lensa objektif menyentuh/membentur gelas
benda. Hal ini dapat menyebabkan lensa objektif tergores).
- Perhatikan bayangan melalui lensa
okuler. Gunakan pemutar kasar untuk menaikkan atau menurunkan lensa
objektif sampai preparat terlihat jelas. Apabila bayangan belum terlihat,
ulangi langkah (3).
- Setelah preparat terlihat, dengan
menggunakan pemutar halus, naik turunkan lensa objektif agar tepat pada
fokus lensa (preparat tampak lebih jelas).
- Untuk memperoleh perbesaran kuat, kita
dapat mengganti/mengubah lensa
objektif dengan cara memutar revolver. Usahakan agar posisi
preparat tidak bergeser. Bila hal ini terjadi maka kamu harus mengulangi
dari awal.
Cara Mengukur melalui
Mikroskop
Miroskop digunakan untuk mengamati dan
mempelajari objek (preparat/spesimen) yang ukurannya sangat kecil. Ukuran
preparat yang kita amati dapat diperkirakan dengan cara membandingkannya dengan
ukuran lapangan pandang yang berbentuk lingkaran. Mari kita mengukur
menggunakan mikroskop.

- Gunakan lensa objektif dengan
perbesaran lemah, misalnya 10x. Letakkan penggaris/mistar plastik
transparan (tembus pandang) dengan skala milimeter di atas meja objek.
Unit pengukuran panjang yang digunakan adalah milimeter atau micron. 1
milimeter setara dengan 1000 mikron.
- Aturlah pemutar kasar sehingga mistar
terletak pada fokus yang tepat.
- Perlahan-lahan geserlah mistar
sehingga diperoleh bayangan
- Jika ukuran lapangan pandang pada
mikroskop seperti pada Gambar, berarti ukuran lapangan pandang pada
mikroskop tersebut adalah 12 mm.
- Gantilah mistar dengan
preparat/sediaan yang diamati. Misalkan preparat/sediaan yang diamati
setengah ukuran bidang lapangan pandang, 12 mm = 6 mm. maka ukuran preparatnya adalah ½ x
- Bagaimana mengetahui ukuran preparat
yang diamati? Penggunaan lensa objektif dengan perbesaran lemah, akan
sulit untuk memperkirakan ukuran bagian yang lebih kecil. Untuk itu, perlu
menggunakan lensa objektif dengan perbesaran kuat, misalnya 40x. Jika
ukuran bayangan preparat yang diamati misalkan ¼ ukuran lapangan pandang
mikroskop, maka 10/40 x perkiraan ukuran sebenarnya dari benda yang diamati
adalah ¼ x 6 mm = 0,375 mm (perkiraan).
JENIS-JENIS MIKROSKOP
1.
Berdasarkan
sumber cahayanya
a. Mikroskop
Cahaya
Mikroskop cahaya atau dikenal juga dengan nama "Compound
light microscope" adalah sebuah mikroskop
yang menggunakan cahaya lampu sebagai pengganti cahaya matahari sebagaimana
yang digunakan pada mikroskop konvensional. Pada mikroskop
konvensional, sumber cahaya masih berasal dari sinar matahari yang dipantulkan
dengan suatu cermin datar ataupun cekung yang terdapat dibawah kondensor.
Cermin ini akan mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor.
Lensa obyektif dan lensa okuler
terletak pada kedua ujung tabung mikroskop sedangkan penggunaan lensa okuler
terletak pada mikroskop bisa berbentuk lensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Pada ujung bawah
mikroskop terdapat tempat dudukan lensa obyektif yang bisa dipasangi tiga lensa
atau lebih. Di bawah tabung mikroskop terdapat meja mikroskop yang merupakan
tempat preparat.
Sistem lensa yang ketiga adalah
kondensor. Kondensor berperan untuk menerangi obyek dan lensa-lensa mikroskop
yang lain
Cara kerja mikroskop cahaya ialah
sebagai berikut:
- Lensa obyektif berfungsi guna
pembentukan bayangan pertama dan menentukan struktur serta bagian renik
yang akan terlihat pada bayangan akhir serta berkemampuan untuk
memperbesar bayangan obyek sehingga dapat memiliki nilai
"apertura" yaitu suatu ukuran daya pisah suatu lensa obyektif
yang akan menentukan daya pisah spesimen, sehingga mampu menunjukkan
struktur renik yang berdekatan sebagai dua benda yang terpisah.
- Lensa okuler,
adalah lensa mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas tabung
berdekatan dengan mata pengamat, dan berfungsi untuk memperbesar bayangan
yang dihasilkan oleh lensa obyektif berkisar antara 4 hingga 25 kali.
- Lensa kondensor,
adalah lensa yang berfungsi guna mendukung terciptanya pencahayaan pada
obyek yang akan dilihat sehingga dengan pengaturan yang tepat maka akan
diperoleh daya pisah maksimal. Jika daya pisah kurang maksimal maka dua
benda akan terlihat menjadi satu dan pembesarannyapun akan kurang optimal.
* Preparasi mikroskop cahaya
Persiapan preparat di dalam
mikroskop cahaya terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
- Preparat Non-permanen, yang dapat diperoleh dengan menambahkan air pada sel
hidup di atas kaca objek, kemudian diamati di bawah mikroskop.
- Preparat permanen, yang dapat diperoleh dengan melakukan fiksasi yang
bertujuan untuk membuat sel dapat menyerap warna, membuat sel tidak
bergerak, mematikan sel, dan mengawetkannya.
- Tahap selanjutnya, yaitu pembuatan sayatan, yang bertujuan untuk memotong
sayatan hingga setipis mungkin agar mudah diamati di bawah mikroskop.
preparat dilapisi dengan monomer resin melalui proses pemanasan karena
pada umumnya jaringan memiliki tekstur yang lunak dan mudah pecah setelah
mengalami fiksasi, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan menggunakan
mikrotom. Umumnya mata pisau mikrotom terbuat dari berlian karena berlian
tersusun dari atom karbon yang padat. Oleh karena itu, sayatan yang
terbentuk lebih rapi. Setelah dilakukan penyayatan, dilanjutkan dengan
pewarnaan, yang bertujuan untuk memperbesar kontras antara preparat yang
akan diamati dengan lingkungan sekitarnya. Setiap pewarna mengikat molekul
yang memiliki kespesifikan tertentu, contohnya : Hematoksilin, yang
mampu mengikat asam amino basa (lisin dan arginin) pada berbagai protein,
dan eosin, yang mampu mengikat molekul asam (DNA dan rantai samping pada
aspartat dan glutamat).
Prinsip
kerja mikroskop cahaya
- Mudah digunakan
- Menggunakan cahaya tampak sebagai sumber
penerangan
- Tampilan obyek warna warni dengan
background terang
B.
Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron adalah sebuah mikroskop
yang mampu untuk melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang
menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk
mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran
objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada mikroskop
cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi
elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya.
Mikroskop cahaya
Fenomena
elektron
Pada
tahun 1920 ditemukan
suatu fenomena di mana elektron yang dipercepat dalam suatu kolom elektromagnet,
dalam suasana hampa udara (vakum)
berkarakter seperti cahaya, dengan panjang gelombang yang 100.000 kali lebih
kecil dari cahaya. Selanjutnya ditemukan juga bahwa medan
listrik dan medan magnet dapat berperan sebagai lensa dan cermin
seperti pada lensa gelas dalam mikroskop
cahaya.
Mikroskop Elektron
Jenis-jenis
mikroskop elektron
A.
Mikroskop transmisi elektron (TEM)
Mikroskop
transmisi elektron (Transmission electron microscope-TEM) adalah sebuah
mikroskop elektron yang cara kerjanya mirip dengan cara kerja proyektor slide, di mana
elektron ditembuskan ke dalam obyek pengamatan dan pengamat mengamati hasil
tembusannya pada layar.
Sejarah penemuan
Seorang
ilmuwan dari universitas Berlin yaitu Dr. Ernst Ruska
menggabungkan penemuan ini dan membangun mikroskop
transmisi elektron (TEM) yang pertama pada tahun 1931. Untuk hasil
karyanya ini maka dunia ilmu pengetahuan menganugerahinya hadiah Penghargaan
Nobel dalam fisika pada tahun 1986. Mikroskop yang pertama kali diciptakannya adalah dengan
menggunakan dua lensa medan magnet, namun tiga tahun kemudian ia
menyempurnakan karyanya tersebut dengan menambahkan lensa ketiga dan
mendemonstrasikan kinerjanya yang menghasilkan resolusi hingga 100 nanometer
(nm) (dua kali lebih baik dari mikroskop cahaya pada masa itu).
Preparasi sediaan
Agar
pengamat dapat mengamati preparat dengan baik, diperlukan persiapan sediaan
dengan tahap sebagai berikut :
1. melakukan fiksasi, yang
bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah struktur sel yang akan diamati.
fiksasi dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium
tetroksida.
2. pembuatan sayatan, yang
bertujuan untuk memotong sayatan hingga setipis mungkin agar mudah diamati di
bawah mikroskop. Preparat dilapisi dengan monomer resin melalui proses pemanasan,
kemudian dilanjutkan dengan pemotongan menggunakan mikrotom. Umumnya mata pisau
mikrotom terbuat dari berlian karena berlian tersusun dari atom karbon yang
padat. Oleh karena itu, sayatan yang terbentuk lebih rapi. Sayatan yang telah
terbentuk diletakkan di atas cincin berpetak untuk diamati.
3. pelapisan/pewarnaan, bertujuan
untuk memperbesar kontras antara preparat yang akan diamati dengan lingkungan
sekitarnya. Pelapisan/pewarnaan dapat menggunakan logam berat seperti uranium
dan timbal.
B. Mikroskop
pemindai transmisi elektron (STEM)
Mikroskop
pemindai transmisi elektron (STEM)adalah merupakan salah satu tipe yang
merupakan hasil pengembangan dari mikroskop transmisi elektron (TEM).
Pada
sistem STEM ini, elektron menembus spesimen namun sebagaimana halnya dengan
cara kerja SEM, optik elektron terfokus langsung pada sudut yang sempit dengan
memindai obyek menggunakan pola pemindaian dimana obyek tersebut dipindai dari
satu sisi ke sisi lainnya (raster) yang menghasilkan lajur-lajur titik (dots)yang
membentuk gambar seperti yang dihasilkan oleh CRT pada televisi / monitor.
C.
Mikroskop pemindai elektron (SEM)
Mikroskop
pemindai elektron (SEM) yang digunakan untuk studi detil arsitektur permukaan sel (atau struktur jasad renik
lainnya), dan obyek diamati secara tiga
dimensi.
Sejarah penemuan
Tidak
diketahui secara persis siapa sebenarnya penemu Mikroskop pemindai elektron
(Scanning Electron Microscope-SEM) ini. Publikasi pertama kali yang
mendiskripsikan teori SEM dilakukan oleh fisikawan Jerman dR. Max Knoll pada 1935, meskipun
fisikawan Jerman lainnya Dr. Manfred von Ardenne
mengklaim dirinya telah melakukan penelitian suatu fenomena yang kemudian
disebut SEM hingga tahun 1937. Mungkin karena itu, tidak satu pun dari keduanya
mendapatkan hadiah nobel untuk penemuan itu.
Pada 1942 tiga orang ilmuwan
Amerika yaitu
Dr. Vladimir Kosma Zworykin[2],
Dr. James Hillier, dan Dr. Snijder, benar-benar membangun
sebuah mikroskop elektron metode pemindaian (SEM) dengan resolusi hingga 50 nm
atau magnifikasi 8.000 kali. Sebagai perbandingan SEM modern sekarang ini
mempunyai resolusi hingga 1 nm atau pembesaran 400.000 kali. Mikroskop elektron
cara ini memfokuskan sinar elektron (electron beam) di permukaan obyek dan
mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang muncul dari permukaan
obyek.
Cara kerja
Mikroskop pemindai elektron (SEM)
Cara
terbentuknya gambar pada SEM berbeda dengan apa yang terjadi pada mikroskop
optic dan TEM. Pada SEM, gambar dibuat berdasarkan deteksi elektron baru
(elektron sekunder) atau elektron pantul yang muncul dari permukaan sampel
ketika permukaan sampel tersebut dipindai dengan sinar elektron. Elektron
sekunder atau elektron pantul yang terdeteksi selanjutnya diperkuat sinyalnya,
kemudian besar amplitudonya ditampilkan dalam gradasi gelap-terang pada layar
monitor CRT (cathode
ray tube). Di layar CRT inilah gambar struktur obyek yang sudah diperbesar bisa
dilihat. Pada proses operasinya, SEM tidak memerlukan sampel yang ditipiskan,
sehingga bisa digunakan untuk melihat obyek dari sudut pandang 3 dimensi.
Preparasi sediaan
Agar pengamat dapat mengamati
preparat dengan baik, diperlukan persiapan sediaan dengan tahap sebagai
berikut :
1. melakukan fiksasi, yang
bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah struktur sel yang akan diamati.
fiksasi dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium
tetroksida.
2. dehidrasi, yang bertujuan untuk
memperendah kadar air dalam sayatan sehingga tidak mengganggu proses
pengamatan.
3. pelapisan/pewarnaan, bertujuan
untuk memperbesar kontras antara preparat yang akan diamati dengan lingkungan
sekitarnya. Pelapisan/pewarnaan dapat menggunakan logam mulia seperti emas dan
platina.
D.
Mikroskop pemindai lingkungan elektron (ESEM)
Mikroskop
ini adalah merupakan pengembangan dari SEM, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut
Environmental SEM (ESEM) yang dikembangkan guna mengatasi obyek
pengamatan yang tidak memenuhi syarat sebagai obyek TEM maupun SEM.
Obyek
yang tidak memenuhi syarat seperti ini biasanya adalah bahan alami yang ingin
diamati secara detil tanpa merusak atau menambah perlakuan yang tidak perlu
terhadap obyek yang apabila menggunakat alat SEM konvensional perlu ditambahkan
beberapa trik yang memungkinkan hal tersebut bisa terlaksana.
Sejarah penemuan
Dr.
Danilatos ini dikenal sebagai pionir dari teknologi ESEM, yang
merupakan suatu inovasi besar bagi dunia mikroskop elektron serta merupakan
kemajuan fundamental dari ilmu mikroskopi.
Deengan
teknologi ESEM ini maka dimungkinkan bagi seorang peneliti untuk meneliti
sebuah objek yang berada pada lingkungan yang menyerupai gas yang betekanan
rendah (low-pressure gaseous environments) misalnya pada 10-50 Torr serta tingkat humiditas diatas 100%. Dalam
arti kata lain ESEM ini memungkinkan dilakukannya penelitian obyek baik dalam
keadaan kering maupun basah.
Sebuah
perusahaan di Boston
yaitu Electro Scan Corporation pada tahun 1988
perusahaan ini diambil alih oleh Philips pada tahun 1996- sekarang
bernama FEI Company telah menemukan suatu cara guna menangkap elektron dari
obyek untuk mendapatkan gambar dan memproduksi muatan positif dengan cara
mendesain sebuah detektor yang dapat menangkap elektron dari suatu obyek dalam
suasana tidak vakum sekaligus menjadi produsen ion positif yang akan dihantarkan
oleh gas dalam ruang obyek ke permukaan obyek. Beberapa jenis gas telah dicoba
untuk menguji teori ini, di antaranya adalah beberapa gas ideal, gas , dan lain lain.
Namun, yang memberikan hasil gambar yang terbaik hanyalah uap air. Untuk
sample dengan karakteristik tertentu uap air kadang kurang memberikan hasil
yang maksimum.
Pada
beberapa tahun terakhir ini peralatan ESEM mulai dipasarkan oleh para
produsennya dengan mengiklankan gambar-gambar jasad renik
dalam keadaan hidup yang selama ini tidak dapat terlihat dengan mikroskop
elektron.
Cara kerja mikroskop
elektron
Pertama-tama
dilakukan suatu upaya untuk menghilangkan penumpukan elektron (charging)
di permukaan obyek, dengan membuat suasana dalam ruang sample tidak vakum
tetapi diisi dengan sedikit gas yang akan mengantarkan muatan positif ke
permukaan obyek, sehingga penumpukan elektron dapat dihindari.
Hal ini
menimbulkan masalah karena kolom tempat elektron dipercepat dan ruang filamen di mana elektron yang
dihasilkan memerlukan tingkat vakum yang tinggi. Permasalahan ini
dapat diselesaikan dengan memisahkan sistem pompa vakum ruang obyek dan ruang
kolom serta filamen, dengan menggunakan sistem pompa untuk masing-masing ruang.
Di antaranya kemudian dipasang satu atau lebih piringan logam platina yang
biasa disebut (aperture)
berlubang dengan diameter antara 200 hingga 500 mikrometer
yang digunakan hanya untuk melewatkan elektron , sementara tingkat kevakuman
yang berbeda dari tiap ruangan tetap terjaga.
Tipe-tipe
pengembangan
1.
Mikroskop refleksi elektron (REM)
Yang
dalam bahasa Inggrisnya disebut Reflection electron microscope (REM), adalah
mikroskop elektron yang memiliki cara kerja yang serupa sebagaimana halnya
dengan cara kerja TEM namun sistem ini menggunakan deteksi pantulan elektron
pada permukaan objek. Tehnik ini secara khusus digunakan dengan
menggabungkannya dengan tehnik Refleksi difraksi elektron energi tinggi (Reflection
High Energy Electron Diffraction) dan tehnik Refleksi pelepasan spektrum
energi tinggi (reflection high-energy loss spectrum - RHELS)
2. Spin-Polarized Low-Energy Electron Microscopy (SPLEEM)
Spin-Polarized
Low-Energy Electron Microscopy
(SPLEEM) ini adalah merupakan Variasi lain yang dikembangkan dari teknik yang
sudah ada sebelumnya, yang digunakan untuk melihat struktur mikro dari medan magnet (en:magnetic
domains).
2. Berdasarkan sistem
pencahayaannya mikroskop dibagi menjadi dua:
·
Mikroskop Optik
Mikroskop
optik, yaitu Mikroskop yang proses perbesaran benda menggunakan cahaya biasa
(cahaya tampak).
Fungsi mikroskop optikal adalah:
- Untuk memvisualisasi detail yang sangat kecil dalam
struktur suatu obyek
- Untuk menampilkan gambar dari obyek yang diperbesar
- Untuk mengukur panjang, sudut, area, dll pada suatu obyek
- Sebagai alat analisa untuk menentukan bagian optik suatu
obyek seperti indeks refraksi, reflektansi, dan perubahan fase;
- Untuk mendapatkan informasi histokimia suatu objek dengan
menggunakan pewarnaan.
Jenis-
jenis mikroskop optik antara lain : mikroskop stereo (dissecting microscope),
mikroskop majemuk (compound
microscope), mikroskop polarisasi, mikroskop fase kontras (phase contrast microscopy) yang
menghasilkan gambar 3 dimensi, mikroskop normaski dan mikroskop fluorescence.
·
Mikroskop
Stereo
Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa
digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop stereo mempunyai
perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat
terlihat secara tiga dimensi. Komponen utama mikroskop stereo hampir sama
dengan mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa obyektif.
Beberapa perbedaan mikroskop cahaya dengan
mikroskop stereo adalah:
v Ruang ketajaman lensa mikroskop stereo jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat
bentuk tiga dimensi benda yang diamati.
v
Sumber
cahaya berasal dari atas sehingga obyek yang tebal dapat diamati. Perbesaran
lensa okuler biasanya 10 kali, sedangkan lensa obyektif menggunakan sistem zoom
dengan perbesaran antara 0,7 hingga 3 kali, sehingga perbesaran total obyek
maksimal 30 kali. Pada bagian bawah mikroskop terdapat meja preparat. Pada
daerah dekat lensa obyektif terdapat lampu yang dihubungkan dengan
transformator. Pengatur fokus obyek terletak disamping tangkai mikroskop,
sedangkan pengatur perbesaran terletak diatas pengatur fokus.
Kekurangan
utama dari tipe obyek mikroskop stereo adalah bahwa aperture numerical dari
system dibatasi oleh adanya jalur beam/cahaya ganda. Karenanya seseorang
harus menggunakan mikroskop majemuk, yang memiliki obyektif dengan diameter
yang lebih besar dan karenanya meningkatkan aperture
numerical.
·
Mikroskop Majemuk (
compound microscope )
Mikroskop
majemuk memerlukan kualitas yang tinggi tidak hanya pada obyektif dan bagian
mata tapi juga pada kondensor substage.
a. Instrument yang terefleksi cahaya
- bagian material
b. Mikroskop cahaya
tertransmisi - bagian biologi.
·
Mikroskop
polarisasi
Menggunakan cahaya terpolarisasi guna menganalisa struktur
yang birefringent.
Birefringence
- suatu property spesimen yang transparan dengan 2 indeks refraktif yang
berbeda pada orientasi yang berbeda untuk membedakan cahaya terpolarisasi ke
dalam kedua komponen. Cahaya terpolarisasi, hanya berfluktuasi/bergerak di satu
dataran karena polar hanya meneruskan cahaya pada dataran tersebut.Jika 2 polar
diletakkan di atas yang lainnya, arahkan sinar ke atas dan putar relatif
terhadap yang lain, akan ada 1 posisi dimana 2 dataran tertransmisi bertemu,
yang akan tampak cerah. Pada 90o terhadap orientasi ini, semua
cahaya akan berhenti (gelap).
·
Mikroskop fase kontras (phase
contrast microscopy)
Menggunakan
retardasi cahaya spesimen untuk menghasilkan perbedaan fase yang dikonversi ke
kontras.
Fase
kontras menggunakan iluminasi bidang terang dengan suatu phase annulus (pada
kondensor) dan phase plate
(dipasang pada obyektif) pada lintas cahaya.
Aplikasi : spesimen hidup,
spesimen yang tidak diwarnai
Dari
ketiga mikroskop itulah yang menghasilkan gambar 3 dimensi, mikroskop normaski,
dan mikroskop fluorescence.
·
Mikroskop
Normaski
Mikroskop Nomarski differential
interference contrast (DIC) menggunakan kombinasi system polarisasi
dan 2 pelepas sinar khusus untuk menciptakan perbedaan fase di spesimen.
Sistem
ini dapat menghasilkan image 3 dimensi karena satu sisi spesimen tampak lebih
terang dibandingkan yang lain seolah - oleh cahaya jatuh disana dan
menghasilkan bayangan (melalui cahaya polarisasi).
Aplikasi : spesimen hidup,
spesimen tanpa warna atau tebal
·
Mikroskop
fluorescence
Mikroskop fluorescence hampir sama
dengan mikroskop cahaya biasa dengan tambahan fitur untuk meningkatkan
kemampuannya. 
- Mikroskop konvensional menggunakan cahaya tampak (400-700
nanometer) untuk iluminasi dan menghasilkan gambar sampel yang diperbesar.
- Mikroskop fluorescence, sebaliknya, menggunakan
intensitas cahaya yang lebih tinggi, yang mengeksitasi bagian berpendar
pada sampel.
Mikroskop
fluorescence sering digunakan untuk menggambarkan fitur khusus dari spesimen
kecil seperti mikroba. Juga digunakan untuk secara visual meningkatkan
fitur 3-D pada skala kecil.
Mikroskop ini sering digunakan
untuk:
- Menampilkan komponen structural suatu spesimen kecil,
seperti sel.
- Melakukan studi viabilitas pada populasi sel (apakah
mereka hidup atau mati?)
- Menampikan materi genetik pada sel (DNA dan RNA)
- Melihat sel - sel spesifik dalam populasi yang lebih
besar dengan teknik khusus seperti FISH
Sifat
bayangan pada mikroskop ditentukan oleh 2 lensa, yaitu lensa objektif dan
okuler.
*
Lensa
objektif mempunyai sifat bayangan maya, terbalik dan diperkecil.
*
Lensa
okuler mempunyai sifat bayangan nyata, tegak dan diperbesar.
Benda yang
diamati diletakkan sedekat mungkin dengan titik focus lensa objektif. Sedangkan
mata kita tepat berada di lensa okuler.
Mata
pengamat berada di belakang lensa objektif yang kebetulan bayangan dari okuler tepat di titik focus
lensa okuler dinamakan pengamat rilks dan pengamatan dilakukan secara
terakomendasi bila bayangan objektif berada diruang etama okuler.
Sifat bayangan
Baik
lensa objektif maupun lensa okuler keduanya merupakan lensa cembung. Secara
garis besar lensa objektif menghasilkan suatu bayangan sementara yang mempunyai
sifat semu, terbalik, dan diperbesar terhadap posisi benda mula-mula, lalu yang
menentukan sifat bayangan akhir selanjutnya adalah lensa okuler. Pada mikroskop
cahaya, bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti bayangan sementara,
semu, terbalik, dan lebih lagi diperbesar. Pada mikroskop elektron bayangan
akhir mempunyai sifat yang sama seperti gambar benda nyata, sejajar, dan
diperbesar. Jika seseorang yang menggunakan mikroskop cahaya meletakkan huruf A
di bawah mikroskop, maka yang ia lihat adalah huruf A yang terbalik dan
diperbesar.
CARA MERAWAT MIKROSKOP
Mikroskop merupakan peralatan biologi yang
perlu dirawat dengan baik. Cara membawa mikroskop dengan baik adalah pegang
tangkainya dengan tangan kanan dan letakkan tangan kiri untuk menopangnya.
Jangan mengayun, melambungkan, atau menggetarkannya sewaktu meletakkan
mikroskop dan jangan mengangkat mikroskop pada tubuh tabungnya, karena akan ada
bagian yang lepas atau jatuh apabila hal ini kamu lakukan. Mikroskop yang telah
selesai dipakai harus dibersihkan, pakailah penutup plastik atau masukkan pada
kotaknya agar terhindar dari debu. Simpan pada tempat yang kering dan usahakan
dalam lemari yang dilengkapi dengan lampu untuk mengurangi kelembaban. Lensa
yang kotor harus dibersihkan dengan kain lembut, kapas pengisap atau kertas
lensa yang telah dibasahi dengan air bersabun, alkohol, atau xilol. Lakukan
dengan hati-hati karena lensa mudah tergores, yang dapat mengakibatkan
pengamatan menjadi kurang jelas.
:) Semoga Bermanfaat :)