Jumat, 27 April 2012

Ayah, Tak Pentingkah Diriku?

Matahari begitu bersemangat mengucapkan salam pada dunia, ketika bayangan pohon tampak begitu pendek bahkan tepat jatuh di tengah. Tidak heran, cuaca hari ini tidak bersahabat, begitu pula kondisi di rumah bertingkat tiga di tepi jalan raya. Tak jauh di depannya, terdengar suara berisik dari dalam rumah itu. Di dalamnya, seberkas map berwarna biru tergeletak berserak di atas sofa jingga bercorak bunga. Di samping berkas itu, duduk seorang lelaki tua dengan api amarah berkobar-kobar dan pandangan tak bersahabat yang di tujukan kepada seorang anak lelaki cilik berbaju hijau.

lelaki cilik itu, hanya menundukkan kepalanya dan diam. "Kamu tak berguna! Kenapa kau biarkan namamu di ubah oleh orang? Kan jadi susah ngurusnya! Bodoh! Urus semuanya sendiri, aku sibuk." Lelaki tua, ayah anak tak berdosa itu terus menggerakkan bibirnya sambil menyampaikan isi hatinya. Layaknya angin berlalu, ia lalu pergi meninggalkan anak itu dengan berkas yang masih berantakan. namun, tanpa disadari, lelaki tua itu mengeluarkan air suci dari matanya. Si anak dalam diam menyimpan dan merekam kata "Bodoh" yang di ucapkan ayahnya yang tercinta. Tanpa ia sadari, air bening menurun deras sari matanya.

"Mengapa begini? Mengapa aku tak bisa meraih kehidupan seperti yang lain? Teman-teman punya ayah yang baik. Yang rela meninggalkan pekerjaan mereka demi menyekolahkan anak-anaknya. kenapa papa tak bisa seperti mereka? Ia begitu maniak Bola. Aku benci papa!!" anak itu  terduduk tak mampu menahan air mata yang telah penuh dan mengeluarkannya. Ia hanya terus berucap sendiri, tanpa mengetahui ayahnya juga merasakan tusukan pisau yang sama bahkan lebih banyak dalam hati kecilnya.

seorang gadis, lalu duduk di samping anak itu. Ia mencoba untuk menjelaskan bahwa semua adalah tidak seperti yang ia pikirkan. anak gadis itu, meneteskan air mata, walau ia berusaha menahannya, ia gagal. Ia masih syok dengan bentakan ayahnya tadi. suaranya terdengar gugup, sekujur tubuhnya dingin dan bergetar. Ia mencoba mencegah sang adik membenci ayahnya. namun, anak itu tetap berkata " Aku benci ayah. Hatiku sakit dibilang bodoh. Jika dia bukan ayahku, akan ku tonjok dia! aku benci dia. aku tak mau punya ayah seperti itu. " Sang kakak terus menerus mengeluarkan tenaga untuk menjelaskan.

Panasnya mentari kian menjadi, sejalannya dengan panasnya  hati sang anak. hanya angin sesekali berhembus mencoba menyejukkan kota kecil ini. beberapa saat, anak itu akhirnya tenang, namun, tancapan pisau di hati kecilnya masih meninggalkan bekas yang belum dapat di tutup.  sang kakak mencoba mencari jalan keluar. dalam hati kecilnya, ia begitu panas, ia begitu marah dengan keluarganya yang tak dapat menyelesaikan masalah dengan damai dan tenang. namun, ia hanya diam. di dalam diam, ia menyimpan sejuta rasa yang begitu sulit diungkapkan.

brum,,, brum,,,
motor pink vario itu dinyalakan. perlahan mulai berjalan. dari kecepatan 20, 30, hingga 60. Anak itu, sudah benar-benar menghentikan air matanya. ia mulai bisa tertawa melihat tingkah usil kakaknya itu. setengah pucat, ia meminta kakaknya menurunkan kecepatan. namun, kakaknya tak memperdulikannya. keadaan tak berubah hingga  mereka tiba di rumah berpintu biru, rumah milik seorang wanita tua, kepala sekolah sang anak. tanpa basa-basi, mereka mengambil posisi duduk dan langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka. wanita itu menjelaskan bahwa masalah nama bukanlah masalah. hanya tinggal di scan saja.

kakak beradik itu, tersenyum penuh kepuasan, lalu pulang dengan tawa. seiring mentari mulai mengucapkan selamat tinggal, anak itu telah mampu mengucapkan selamat tinggal pula pada luka akibat pisau yang tertancap di hatinya. sang ayah pulang dan meminta maaf pada anak emasnya itu lalu memeluknya penuh cinta. terangnya bulan dan bintang yang bertaburan, menerangi hati gelap anak yang akhirnya dapat tersenyum. :)

Kamis, 26 April 2012

Buddhis Song :)


HADIRKAN CINTA

Cipt. Joky
Vocal : Iyed Bustami
Pernahkah kita renungi
Tentang arah langkah dalam hidup ini
Tebarkanlah cinta kasih di lubuk hati
Agar bahagia terjadi

Sadarlah hai manusia
Berpedoman yang benar agar bahagia
Pancarkanlah cinta kasih pada sesame
Agar bahagia dunia

*Terkadang hati kita pun terpana
Menatap kemilau dunia
Terkadang suara hati pun meronta
Rasakan palsunya dunia

Reff  :    Hadirkan cinta satukan rasa di dada
Pancarkan kasih pada sesame
Bahagialah semesta
Jauhkan diri dari amarah di hati
Agar seluruh alam berseri
Menyambut indahnya dunia ini





SANG GURU
Vocal : Meicie Widjaja
Cipt. Joky

Hanya ada satu guru yang kupuja
Guru maha agung serta bijaksana
Yang tlah memberikan ajaran mulia
Membimbing semua makhluk dari samsara

*Hanya ada satu guru yang kupuja
Sang Buddha guru yang maha sempurna
Ajarannya bagaikan pelita
Penerang dari gelapnya dunia

Reff    :    Bersujudlah semua makhluk dihadapannya
Karena cinta kasih Buddha tiada tara
Bergemalah nada kasih lewat dhammanya
Smoga semua makhluk hidup berbahagia



 
KASIH DUNIA

Banyak orang yang hidup
Saling benci antara sesama
Bencana derita semua itu akibat darinya

Bahagia dan damai
Jauh dari rasa permusuhan
Demikianlah harapan setiap makhluk di dunia

Jika tahu indahnya kasih
Mengapa kita lupa sabdanya….

Pancarkanlah cinta kasih
Dari lubuk hati yang paling dalam
Buddha Dhamma tlah mengajarkan
Kasihi semua makhluk di dunia


KASIH BUDDHA

Rasakan damai kicauan burung
Demikianlah kasih Buddha
Rasakan hangat mentari pagi
Demikianlah kasih Buddha
Tiada terukur dalam lautan
Demikianlah kasih Buddha
Tiada terbayang luasnya dunia
Demikianlah kasih Buddha

Reff : Kasihnya bagaikan setetes embun pagi
Memberikan rasa sejuk serta damai dihati
Kasihnya bagaikan Bintang dimalam hari
Menerangi hati kita bila dikegelapan






 Be Good, Be Mindful, Be Happy :)











Rabu, 25 April 2012

Lirik lagu "B-Class Life



I am a boy just a boy
sumanheun boi junge geujeo han boi
mwonga teukbyeolhan ge eopgo mueotdo
naeseulge eomneun geureon saram
I am a girl just a girl
jinaganeun geol bwado moreuneun girl
jeonhyeo yeppeujido anko nungwako
pyeongbeomhagi geujieomneun saram
urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun
urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun
urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun
urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun
byeolboril eomneun boril
sseuldeeomneun sseul ttaeman gajyeotjyo
bujireomneun ttambangulman
jureukjureuk heulligo itjyo
dapdaphan nae mamboda
deo dapdaphaehaneun nae juwiui
saramdeurui pyojeongboda nakkaji jichyeogajyo
urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun
urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun
urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun
urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun
eonjenga nae ane inneun
nae teukbyeolhameul chajanae
boyeojul nari isseulkkayo
maeume eolma namji anheun
nae kkumeul da irki jeone
naege bichi bichul su isseulkkayo
urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun
urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun
urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun
urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun
urineun B


ketika hujan berganti pelangi

Byur... Byur...
terdengar suara dari kamar mandi yang memecah kesunyian pagi. Beberapa detik, lalu keluar seorang gadis mungil yang memenuhi udara pagi dengan wewangian segar. Ia mengenakan kaos putih dengan celana jeans kesayangannya. Tina, demikianlah panggilan akrabnya. Dengan penuh semangat, ia melangkah bergegas menuju kamarnya. Hari ini seakan menjadi hari yang akan menentukan garis hidupnya untuk ke depan.

Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna coklat yang agak usang namun masih tampak indah. Di dalam kotak itu tampak banyak sekali tumpukan surat-surat. Ia masih menyempatkan diri untuk membuka dan membaca semua kertas-kertas kenangan itu. Tina membaca satu per satu kertas-kertas kenangan itu, hingga ia menemukan dua surat yang masih terbungkus rapi namun sedikit rusak. Surat berlukiskan naga kembar berwarna hijau di depan amplopnya itu, seakan menjadi pesan wasiat. Surat itu masih dalam keadaan yang sangat di rawat, di sekitar amplopnya tertebar gambar-gambar love mini yang bertulis "gunting disini" di salah satu ujungnya.

"Ia benar-benar akan pergi hari ini. Aku harus menemuinya untuk mengucapkan terima kasih atas doa berharganya." Gumam Tika sambil terus menatap surat misterius pemberian temannya pada hari ulang tahunnya. Tanpa basa-basi, diambilnya sebuah pena  dan secarik kertas berwarna pink yang manis. Lalu, ia mulai menulis, mencurahkan segala perasaannya dalam kertas tersebut. Pena di tangan Tina seakan menari dengan begitu indahnya, tanpa kesalahan. Kertas kosong itu pun kini telah terisi.  

Sembari berdiri, Tina memasukkan surat yang telah ia tulis ke dalam amplop dengan sangat hati-hati, seakan memasukkan emas yang berharga. Lalu, di raihnya sebuah ransel pink yang cukup besar dan manis. Ia lalu mulai berjalan, tap... tap.. tap...
hingga, akhirnya ia menghentikan langkahnya di sebuah sekolah yang sederhana namun asri dan sejuk. pemandangannya tak membuat mata bosan memandang, melainkan membuat mata tak mau berhenti memandanginya. di depan sebuah kelas yang kecil, Tina berdiri. berharap menemukan sang penulis surat misterius itu. Ia berusaha mencari dan mencari,  lalu, ia mengintip ke dalam kelas berharap menemukan jam. Untungnya, berhasil ia temukan sebuah jam merah yang menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ia masih terus menunggu.

beberapa lama kemudian, seorang gadis kecil berparas wajah lembut yang mengenakan kaca mata, berkulit putih dan penuh senyum menghampiri Tina. "Tin, si Andra akhirnya pindah juga ya. kurang 1 lagi nih teman kita nyusul si Vivi."
Tina terpaku diam beberapa saat. Ia layaknya kehilangan kehidupan, penuh putus asa, seakan sesuatu yang penting telah hilang dari hidupnya. "Begitulah. Gak nyangka ya, padahal baru setahun dia disini." jawab Tina berusaha melebarkan bibirnya yang tadinya murung. 

angin bertiup kencang, tanda hari akan turun hujan. sejuknya, bahkan kalah dari dinginnya hati Tina yang telah membeku  karena kecewa dan penyesalan. cuaca seakan begitu memahami dirinya, ia tak menghiraukan angin tersebut bahkan hingga akhirnya hujan turun. ia hanya terus berjalan layaknya bunga yang akan layu, begitu lemas. hujan ini seakan bersimpati pada dirinya yang menahan air mata. dinginnya udara bahkan membekukan bibirnya hingga ia hanya bisa terdiam bisu, tanpa kata, tanpa senyum, tanpa tawa. yang ada hanya sebuah lekungan bibir membentuk huruf "n". 

tiba di rumah kayunya, Tina menyirami tubuhnya dengan siraman air dingin. membiarkan air matanya mengalir bersama air. di  rebahkannya tubuhnya di atas sofa lembutnya. kembali ia membuka surat berlukis naga itu. ia membacanya, sambil ia meneteskan air mata. kenapa ia tidak bisa membalas segala kebaikan Andra? mengapa ia begitu terlambat untuk menyusul Andra? padahal ia telah mengira bahwa Andra pasti akan ke sekolah untuk mengurus berbagai surat-surat pindah.

akhirnya, kembali ia bertekad "Dra, terima kasih kau telah menjadi temanku. Maaf karena aku belum sempat merayakan ultahmu. Tapi, aku janji, dalam lubuk hatiku, kau masih merupakan teman istimewa, yang pertama dan terakhir. Mungkin inilah jalan takdir kehidupan kita. "

ketika itu pun, mentari mulai bersinar, dari kejauhan tampak warna-warni pelangi yang muncul sehabis hujan. Tina tidak lagi bersedih, ia telah ceria kembali dengan berbagai perasaan dan rasa syukur bercampur, ia merasakan indahnya kehidupan seindah pelangi." Terima Kasih Tuhan. kau menyadarkanku, layaknya kau mengubah hujan yang suram dengan pelangi yang indah"  ucapnya dalam hati sembari tersenyum melepas kepergian sahabatnya.